:: Tradisi santri - Tradisi Budaya
setiap komunitas, pastilah akan menghasilkan sebuah tradisi yang berbeda-beda, begitu pula dengan komunitas mas santri dan mbak banat di Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan yang sudah eksis sejak ratusan taun yang silam. diantara beberapa tradisi itu adalah :
:: Ijtima'
adalah kegiatan kumpul bareng seluruh sntri di serambi masjid yang selalu dilakukan setiap akan ada even-even besar seperti imtihan, haflah, akhir tahun, atau acara-acara insidentil lain yang bersifat mendadak dengan tanda yang khas yaitu suara bel yang dipukul panjang bertalu-talu
:: Naun
Nahun yang disebut juga tirakat atau lelakon pertama kali dilakukan oleh santrinya Mbah Dimyathi dimana pada saat itu perkembangan pondok sangat pesat sehingga banyak para santri yang datang untuk menuntut ilmu dari berbagai penjuru nusantara, dan bahkan ada yang berasal dari negara tetangga. Dengan letak pondok yang jauh dari kampung halaman mereka pada waktu itu, sementara alat transportasi juga belum ada sama sekali kecuali gerobak dan sejenisnya, dilakukanlah nahun dalam arti hakiki yaitu tekun belajar dan tidak keluar dari komplek pondok dalam jangka waktu 3 tahun ataupun 3 tahun 3 bulan dan 3 hari. Mengenai jangka waktu pelaksanaan nahun sebenarnya tidak ada patokannya dan itu hanyalah istilah, bahkan pondok pun tidak mengatur tentang hal ini.

Adapun kisah yang melatar belakangi tradisi ini adalah ketika suatu hari mbah guru putri (Nyai Khotijah istri KH. Dimyathi) yang sedang melakukan tirakat (puasa) selama 3 tahun, 3 bulan dan 3 hari, mengalami hal yang sangat aneh yaitu saat beliau mencuci beras untuk dimasak di sebuah sumur (sekarang terletak di tengah-tengah Madrosah depan masjid) tiba-tiba beras tersebut berubah menjadi emas, mbah guru putri pun kaget seraya berdo'a, "Yaa... Alloh, saya bertirakat bukanlah untuk mengharapkan emas atau harta benda dunia, akan tetapi saya memohon kepada - Mu, Yaa... Alloh, jadikanlah Tremas ini bagian dari masyarakat, jadikanlah keluarga kami termasuk Ahlul 'Ilmi dan jadikanlah santri-santri yang menuntut ilmu disini menjadi santri yang barokah", (au kama qol) seraya membuang emas tersebut kedalam sumur.

Setelah kejadian itu banyak sekali santri yang melakukan nahun sebagai bentuk tirakat agar kegiatan belajarnya di Pondok Tremas senantiasa lancar dan berhasil mencapai tujuannya hatta setelah terjun di masyarakat kelak. Namun dari sekian banyak sejarah nahun, yang paling hebat adalah para masyayih Tremas selama menjalani masa belajar di Pondok Tremas dahulu seperti KH. Haris Dimyathi, bayangkan, beliau ini tinggal di asrama pondok dan sama sekali tidak pulang ke ndalem (rumah kyai) selama 3 tahun 3 bulan 3 hari, padahal ndalemnya selalu kelihatan setiap hari karena jarak antara asrama dan ndalem hanya 50 meter...!!!!???

Sesuai dengan perkembangan zaman, tradisi ini tetap ditiru oleh generasi selanjutnya meskipun dengan versi yang berbeda-beda. Sekarang ini versi nahun yang berlaku dikalangan santri Pondok Tremas ada 3 yaitu:

1. Tidak keluar dari komplek pondok
2. Tidak keluar dari wilayah kabupaten Pacitan
3. Tidak pulang kerumahnya
Yang berlaku umum di kalangan santri Tremas sekarang ini adalah nahun sesuai dengan kategori ke-2 dan ke-3 dengan waktu minimal 3 tahun, dan kebanyakan mereka berasal dari luar Jawa
:: Ziaroh
sebagaimana yang terjadi seluruh belahan dunia, ziaroh adalah salah satu wujud ta'dzim (hormat) kepada para Mu'assis (pendiri) pondok Tremas yang dilakukan oleh para santri setiap ba'da ashar ke Maqbaroh Gunung Lembu yang terletak sekitar 350 meter dari komplek pondok dan Maqbaroh Semanten yang terletak di sebuah bukit desa Semanten (dipinggiran kota Pacitan) pada setiap hari Kamis dan Jum'at. Namun begitu di Pondok Tremas ada satu tradisi unik yang sudah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu, yaitu setiap santri baru "diusahakan" dapat routin berziarah ke Maqbaroh Gunung Lembu selama 41 hari berturut-turut tanpa putus. suatu kegiatan yang kelihatannya ringan dan gampang, namun pada prakteknya sangat sulit untuk mencapai target sempurna dari tradisi ini, ada saja kendalanya, seperti hujan, ketiduran, dan sebagainya. Seirama dengan itu adalagi tradisi yang juga sudah mengakar di Pondok Tremas yaitu bagi santri baru -sekali lagi- "diusahakan" untuk tidak tidur siang selama 1 minggu penuh terhitung sejak hari pertama kedatangannya di Pondok Tremas. Hal yang kelihatannya sepele ini juga sangat sulit dilakukan, ndelalah para santri baru ini selalu mendapat cobaan dan godaan yang berupa ngantuk berat. Untuk itu para santri senior biasanya akan dengan senang hati membantu dengan selalu mengingatkan dan bahkan menunggui atau mengajaknya jalan-jalan keliling kampung agar tidak tertidur Pada dasarnya tradisi ini tidak ada dasar hukumnya sama sekaliapalagi peraturan tertulis dari pengurus pondok untuk mewajibkannya, dicari dalilnya juga ndak bakalan ketemu, namun bila kita cermati lebih jauh tradisi ini adalah suatu tes mental yang amat dalam ma'nanya untuk menguji sejauh mana kesungguhan dan ketekunan santri Pondok Tremas itu sendiri
:: Ngendil Berjamaah
inilah tradisi favorit santri Tremas setiap menyambut acara seremonial tertentu di Pondok Tremas. ujudnya bisa bermacam-macam, tergantung oleh situasi dan kondisi acaranya tersebut, ada yang perkelompok, asrama, kelas, dan lain sebagainya dengan beragam bentuk dan kepentingannya, bahkan puncaknya pada malam 1 Suro atau akhir tahun acara ini diselenggarakan secara bersama-sama di komplek pondok oleh seluruh santri putra dan putri, dengan media yang sangat sederhana yaitu pelepah daun pisang hingga membuat komplek pondok Tremas persis seperti dapur umum
:: Ngipah

Ngipah atau ngirit pajekan dalam bahasa resmi pondok disebut diafah sudah berlangsung sejak dulu kala di Pondok Tremas. orang yang pertama kali memberi nama atau sebutan ngipah adalah KH. Imron Rosyadi dari Bangil Pasuruan. Ketika masih mondok di Tremas, beliau dikenal sebagai santri yang sangat humoris, dan dari kehumorisan beliaulah sebutan ngipa atau ngipah menjadi tradisi yang masih berlangsung di Pondok Tremas hingga kini

Meski terlihat serupa namun sebenarnya sejarah ngipa dan dliyafah itu tidaklah sama. Istilah ngipa yang digunakan para santri sejak dulu itu muncul karena pada hari-hari besar Islam, para santri mendapatkan makanan gratis tanpa harus mengambil jatah dari pajekannya (tempat kost makan). Sedangkan diyafah adalah yang berasal dari bahasa arabyang dimunculkan oleh keluarga ndalem yang berarti penjamuan atau penghormatan

Pada zaman dahulu, pelaksanaan ngipa atau dliyafah menjadi tanggung jawab PHBI. Namun karena semakin hari jumlah santri Tremas terus bertambah, dan dana PHBI tidak mencukupi lagi untuk melaksanakan tradisi itu, maka pelaksanaannya di ambil alih oleh keluarga ndalem dan dilaksanakan setiap khaul yang dimulai pada khaulnya mbah Kyai Dimyathi sekitar 68 tahun yang lalu

Pada saat ini sebutan ngipah telah meluas, tidak hanya terbatas makan gratis pada saat khaul yang berlangsung setahun sekali saja, tetapi juga digunakan untuk menyebut kegiatan makan gratis secara menyeluruh, kapanpun, dimanapun dan diselenggarakan oleh siapapun

[ Update ]